HER Project: A Piece of Sandwich Before Her Exam

her project req by gece

a writing project by risequinn

Starring:
Ahn Hyungseob  x  Ahn Hyori

Family, College-Life | 1.1k words | General

I just own the story, OC belongs to graesthetic!

.

“Gadis ini memang sangat sulit ditebak. Tapi, justru itulah kelebihannya.”—Ahn Hyungseob, 2018

.

.

Rapat klub selesai lebih cepat hari ini. Kupikir memang ini karena faktor tempat yang dijadikan rapat. Sebelum-sebelumnya, kami masih mengadakan rapat rutin di dalam ruangan klub, dan membuat rapat menjadi super lama plus pokok bahasannya yang terus berputar-putar tanpa menemui tujuan yang jelas. Lalu, begitu anggota klub mengusulkan rapat diadakan di kantin universitas, semuanya menjadi lebih cepat, terkontrol dengan baik, bahkan bisa dibilang lebih lancar daripada sebelum-sebelumnya.

Kurasa karena mereka semua menjadi lebih santai dan tidak tegang, jadi hanya seperti musyawarah ringan saja. Tidak ada yang lebih berkuasa atau sebagainya karena kami hanya mengobrol santai tetapi tidak keluar dari topik pembicaraan.

Mungkin lain kali, opsi rapat di kantin universitas bisa dilakukan lagi—sambil memakan berbagai camilan dan bersantai sama-sama.

Aku berjalan keluar kantin paling terakhir karena harus membereskan berkas-berkas hasil rapat. Yup, aku sekretaris. Dan karena aku laki-laki nomor dua (nomor satu jelas ketua klub kami) di pengurus harian, jadi aku suka disuruh-suruh para wanita membereskan semuanya. Alasan klise, laki-laki harus lebih bertanggung jawab dan membawa barang-barang berat. Padahal, setumpuk kertas ini nggak ada berat-beratnya sama sekali. Begitulah, para wanita memang pandai membuat alasan agar laki-laki mengalah. Tsk.

Begitu aku melangkah keluar kantin, aku melihat Hyori sedang duduk di salah satu kursi taman universitas sembari membaca buku. Posisinya memang lurus dengan pintu keluar kantin, jadi aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa itu memang Ahn Hyori. Rambutnya yang pendek dan khas itu selalu membuatku lebih cepat mengenalinya dari siapapun.

Aku menepuk bahu teman sekretarisku dan menyerahkan berkas-berkas itu padanya. Dia mendecak pelan, ingin protes, tapi aku lebih dulu melesat pergi. Aku masuk kembali ke kantin, membeli dua buah roti isi vegetarian serta dua kaleng minuman dingin. Tanpa memedulikan omelan teman sekretarisku lagi, aku segera berlari menuju taman dan menemui Hyori.

Kebiasaannya jika sedang fokus terhadap sesuatu, Hyori tidak akan menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. Tapi, ini merupakan sesuatu yang baik untukku. Gadis superdingin ini harus dijahili sekali-kali supaya tidak melulu memasang wajah datar seperti tidak pernah bisa marah.

Jadi, aku mengambil jalan memutar. Sedikit bersembunyi di balik pohon begitu dia membuat pergerakan, tapi sekali lagi, gadis ini memang tidak peka luar biasa. Dia masih terus membaca buku tebal yang berada di pangkuannya tanpa curiga bahwa ada orang yang sudah menyelinap di sekitarnya.

Aku berjalan mengendap-endap untuk mencapai bagian belakang dari kursi yang ditempati gadis itu, namun langkahku buru-buru terhenti. Hyori menutup bukunya sembari membuang napas dengan keras.

“Ahn Hyungseob!” katanya, kemudian mendelik ke arahku.

Aku hanya membalasnya dengan memamerkan cengiran dan terkekeh-kekeh dengan kikuk.

“Mudah sekali tertangkap, ya?” sahutku, berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

“Nggak sulit untuk mengenali bau parfummu.” balasnya, dan aku hanya mengendus kaus yang kupakai untuk membaui parfum yang kugunakan. “Ngapain, hm? Lagi nggak ada kelas sampai ganggu orang lagi belajar?”

Aku tak langsung menyahut. Menyerahkan roti isi yang kubeli di kantin tadi padanya dengan sekaleng minuman dingin. Dia mendelik lagi ke arahku seraya menerimanya. Jadi aku buru-buru berkata, “Vegetarian, kok.” sebelum dia mengira aku mau meracuninya dengan daging asap atau apapun yang mengandung protein hewani.

Thanks.” ucapnya kemudian.

Aku hanya mengangguk, lantas membuka bungkusan roti isiku.

“Belum selesai ujiannya?” tanyaku basa-basi.

Hyori menggigit rotinya sambil menggeleng. “Masih ada dua jadwal lagi siang ini dan besok.”

“Fakultasku sudah selesai ujian kemarin, kenapa kau masih lama?”

Dia mengedikkan bahu. “Lalu, kau ngapain di kampus jika ujianmu sudah selesai?” tanyanya.

“Baru rapat Sketsa1.”

“Mau ada event lagi?”

“Begitulah.”

Hyori manggut-manggut, sementara aku mengalihkan pandang pada tumpukan bukunya yang tercecer di atas kursi yang kami duduki. Aku nggak mengerti soal ilmu sosial dan politik, jadi aku tidak memerhatikannya lebih lanjut. Hanya saja, aku selalu melihatnya mempelajari buku-buku ini sewaktu menemukannya di mana pun—entah di rumah, di kampus, saat kami pergi makan malam di luar pun dia sempat membawa buku-buku ini di dalam mobil. Dia benar-benar belajar dengan keras.

Tapi, belakangan aku mulai kuatir karena dia sering tidur larut karena harus terus belajar. Memang, dia ingin menjadi orang hebat suatu hari nanti. Hanya saja, itu masih membuatku cemas lantaran dia sulit terbuka dengan orang lain. Dia tidak pernah bercerita pada siapa pun apa yang sedang dirasakannya saat ini. Aku tahu, mungkin berat menjalani hidup sebagai Ahn Hyori, masalah yang dihadapinya sudah banyak sejak dia masih kecil. Dan itu juga mengapa dia suka sekali menutup diri. Mungkin, dia nggak berkenan orang lain memasuki kehidupannya yang sulit.

“Hyo, jangan belajar terlalu keras. Aku yakin, kok, kalau kau pasti bisa mengerjakan soal-soal itu dengan mudah. Istirahatlah yang cukup. Nanti kau malah sakit.”

“Aku harus, Hyungseob. Aku akan marah dengan diriku sendiri jika aku nggak bisa melakukan yang terbaik.”

Aku menekan bahunya pelan. “Hei, kau sudah melakukan yang terbaik, kok. Buktinya, IP-mu selalu naik tiap semester. IPK-mu juga sudah cum laude2, itu prestasi yang baik.”

Hyori tidak menyahut, dia masih diam sembari memerhatikan ke arah kantin. Aku meliriknya, dia tidak sedang ngiler ingin makan atau minum sesuatu di sana. Tatapannya seolah sedang menebak-nebak para muda-mudi yang kini berkeliaran di tempat teramai universitas kami itu mau jadi apa kedepannya. Lalu, tak berapa lama kemudian, dia melayangkan tatapan yang sama kepadaku.

Merasa risi ditatap seperti itu, aku mengibaskan tanganku di depan mukanya. Dan kemudian dia mendengus sembari kembali pada posisinya semula.

“Kau mau jadi apa setelah lulus nanti?” tanyanya tiba-tiba, tapi ini membuktikan bahwa dugaanku tadi benar.

Jujur saja, aku tidak punya—atau, belum punya—jawaban dari pertanyaannya itu. Aku, Hyori juga, kami masih sangat muda. Jadi, aku belum memikirkan bagaimana masa depanku nanti. Yang jelas, aku ingin jadi seseorang yang berguna, yang bisa membuat orang-orang tersayangku merasa bangga.

“Aku belum memikirkannya. Kau sendiri?”

“Aku punya rencana besar untuk masa depanku, tapi aku nggak ingin mengatakannya sekarang. Takut terlalu berlebihan. Kau akan lihat jika aku sudah berhasil nanti.”

“Kau malah membuatku takut, Hyori-ya.”

Dia tersenyum kecil. “Kau juga harus memikirkan masa depanmu dari sekarang. Jangan anggap bahwa kau masih muda, jadi menurutmu masa depan masih jauh. Kau tak akan punya waktu begitu kau sudah dewasa nanti, Hyungseob.”

Aku sedikit tercengang dengan kata-katanya. Oke, kuakui Hyori memang jarang sekali bicara. Malah, setiap kali dia mau bicara denganku, dia hanya bertanya sesuatu yang belum tentu mau kujawab saking tidak pentingnya. Dan begitu gadis ini mulai serius, kurasa dia malah jauh lebih dewasa dari umurnya yang sesungguhnya. Entahlah, gadis ini memang sangat sulit ditebak. Tapi, justru itulah kelebihannya.

Aku baru saja mau menyahut begitu bel berbunyi dengan suara keras. Hyori segera berkemas dan bangkit dari tempat duduknya. Dia memandangku sekali lagi, kemudian menepuk pundakku sebentar sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kelasnya.

“Hyo!” teriakku, lalu dia berbalik beberapa meter di depanku. “Semoga sukses ujiannya!”

Hyori tersenyum sekali lagi, kemudian kembali berjalan ke kelasnya sembari mengangkat tangannya membentuk simbol ‘oke’.

Gadis itu, jika dia mau banyak senyum sebetulnya manis juga, kok.

.

.

.

fin.

1 Sketsa ini kalau di kampusku semacam UKM yang bikin majalah yang isinya seputar kampus kami. Di dalamnya juga ada cerpen-cerpen dan event gitu.

2 Cum Laude (berasal dari Bahasa Latin yang berarti dengan pujian). Predikat ini diberikan pada ujian di perguruan tinggi. Kalau setahuku, ini buat memberi peringkat pada IPK kita setelah ujian, nah si cum laude ini berada di paling baik (atau biasanya yang dapat IPK 3,51 s/d 4,00).

.

risequinn’s note:

Oke, pertama mau minta maaf dulu karena aku abis tumbang, jadi baru bisa lanjutin proyek ini sekarang /.\

Kedua, mau minta maaf sama pemilik OC-nya kalau ini diluar ekspektasi atau Hyori-nya malah OOC. Im so sorry, Ce! But, hope you like it! I’ve tried my best.

Ketiga, mau memberi semangat sama siapa saja yang lagi atau mau menjalankan UAS (karena sendirinya juga mau ujian), semangat semuanya! Semoga dapat nilai dan IP terbaik (dan semoga ada yang ngasih roti isi ke kalian sebelum ujian seperti yang dilakukan Hyungseob /ga).

Lastly, it’s not a crime to give a lil comment below, guys! ^^

Advertisements

4 thoughts on “HER Project: A Piece of Sandwich Before Her Exam

  1. Kak irish… This is indeed so sweet… Bagus kak serius aku suka banget kak gmn pembawaan hyori dan ucup di sini ihihi terus alur sama bahasanya ngalir kak plus makasih semangat UASnya yha terharu becoz kreatornya hyori jg uas ini :”) makasih ya kaaak

    Like

      1. Ce….. kayanya kamu baru mabok soal uas ya sampe salah nama gitu? Wkwkwk 😂😂

        Semoga ini sesuai ekspektasimu ya~ aku bingung mau ngambil cerita gimana jadi aku dikit-dikit nyontek profilnya hyori yang kamu link ke aku kemarin /.\

        Like

Pip~ Pip~ Pip~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s