HER Project: She Will Never Be Her

her project chaelim

a writing project by risequinn

Starring:
Chae Hyungwon  x  Lim Jookyung

Angst, College-Life, slight!Romance | 1.3k words | PG-15

I just own the plot and OC!

.

“Setiap orang akan dihadapkan dengan dua pilihan tersulit; memilih dan membuat keputusan dari pilihannya.”—Chae Hyungwon, 2018

.

.

Setiap orang akan dihadapkan dengan dua pilihan tersulit; memilih dan membuat keputusan dari pilihannya.

Aku tidak pernah menyangka bahwa kedatangan Lim Jookyung akan sanggup merubah pandanganku soal hidup. Dia adalah gadis yang tidak pernah kupikir bisa masuk dalam kategori tipe idealku. Sikapnya kelewat ceria sampai-sampai dia tidak pernah berhenti tertawa sepanjang perjalanan menuju gedung fakultasnya. Setiap kali bertemu denganku, dia akan memanggil namaku keras-keras, tidak peduli aku sedang sendirian, bersama teman-temanku, atau bahkan bersama … pacarku.

Dulunya, Joo tak begitu banyak bicara atau tertawa begitu, dia cukup pemalu tapi kuakui dia sedikit pemberani. Entah perasaanku saja atau omongan Changkyun waktu itu memang betulan, Joo menjadi gadis yang banyak tertawa setelah mengenalku. Katanya, dia memang menyukaiku dan menjadikanku sebagai semangatnya belajar.

Jujur saja, aku sempat tidak percaya pada kata-kata anggota klub dance-ku sekaligus saudara kembar Joo itu. Tapi, belakangan sikap gadis itu menunjukkan bahwa kata-kata yang diungkapkan saudaranya padaku memang betul-betul dialaminya saat ini.

Beberapa waktu lalu, pacarku marah-marah padanya karena mendengar berita itu. Mungkin jika gadis normal lain, dia akan langsung berhenti dan menyerah pada perasaannya, tapi tidak untuk Joo. Meski tidak sembarangan memanggil namaku keras-keras seperti dulu, aku yakin perasaannya padaku belum berubah sedikitpun. Dan aku juga tidak mendorongnya untuk pergi karena … rasanya sikap-terlalu-jujur yang dimilikinya itu membuatku merasa nyaman, aku dapat menjadi diriku sendiri setiap kali bersamanya.

Psst, Kak Chae!”

Aku sedang menunggu antrean bimbingan proposal saat mendengar suara kecil Joo di sebalik pilar koridor. Entah sedang apa gadis itu mengendap-endap begitu, jadi saat aku melihat batang hidungnya aku hanya sanggup tertawa pelan dan mendekatinya. Aku memukul kepalanya, lalu dia mendesis karena tidak terima dipukul sembarangan.

“Ngapain, hm? Nanti kalau ketahuan Loui kamu bakalan diomeli lagi.”

“Biarin, deh.” sahutnya, kemudian nyengir. “Nih, buatmu. Semoga cepat kelar ya skripsinya!” dia mendorong sebuah pouch minuman warna marun ke arahku.

“Apaan, nih?”

“Minuman penambah daya ingat. Kupikir kau akan butuh ini, Kak.”

Aku menerima pouch itu seraya tersenyum. “Thanks ya, Joo. Ini akan sangat berguna.”

Dia lantas menepuk pundakku sebentar, kemudian berniat pergi. Tapi, aku menahan tangannya dan membawanya menjauh dari koridor menuju halaman belakang universitas. Joo sempat memprotes tindakanku, tapi aku tetap tidak membiarkannya untuk pergi. Ini sudah berjalan sangat lama, dan kupikir jika semakin lama kubiarkan seperti ini, aku akan menyakitinya dan juga pacarku. Aku ingin bicara sesuatu padanya. Aku harus memutuskan sesuatu untuknya dan untuk pacarku.

“Kak, sungguh kau harus segera melakukan bimbingan.” ucapnya begitu kami sampai di halaman belakang. Dia berkacak pinggang di depanku dan tampangnya kelihatan kesal sekali.

“Aku bisa melakukannya nanti.” kataku, memandang matanya dengan serius, lalu dia justru salah tingkah dan berusaha lari. Aku menahannya lagi, kali ini cengkeramanku berada pada kedua bahunya yang tegang. “Aku kepingin bicara sesuatu denganmu, Joo.”

“Kak ….”

“Aku minta maaf. Tapi, akan lebih baik jika kau berhenti melakukan semua ini.”

Aku sudah menduga bahwa aku akan menyakitinya, dan semuanya terbukti saat matanya mulai berkaca-kaca.

Namun, tahu-tahu dia tersenyum. “Aku tahu bahwa cepat atau lambat kau pasti akan bicara seperti ini. Tapi, aku melakukan semua ini karena aku memang ingin melakukannya ….”

“Joo, semuanya akan bertambah buruk jika kau berkeras. Aku … kurasa dalam waktu dekat aku akan bertunangan dengan Loui.”

Joo diam. Matanya memaku lurus-lurus ke milikku tanpa berkedip sedikitpun. Tampaknya, dia sedang syok dengan kata-kataku barusan. Tapi, aku tidak sedang bercanda, aku betulan sudah merencanakan ini dengan pacarku beberapa waktu lalu. Jadi, aku berusaha bicara pada Joo meski … rasanya aku juga akan kehilangan gadis ini begitu dia berhenti.

“Aku nggak akan menyerah,” katanya, sedikit membuatku lega sekaligus bingung luar biasa. “meskipun kau memintaku untuk pergi berulangkali, meskipun kau akan bertunangan, bahkan meskipun kau akan menikah nanti, aku nggak akan pernah menyerah. Aku tahu ini egois, Kak, tapi aku betulan nggak bisa. Aku—”

Bukan hanya Joo, kupikir aku juga egois saat ini karena aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menciumnya. Aku meraih tengkuknya dan menyapukan bibirku pada miliknya. Ada gejolak yang aneh begitu aku mendengar bahwa dia tidak akan pernah menyerah pada perasaannya meskipun dia tahu rencana besar yang kubuar bersama pacarku. Kupikir aku bisa memintanya berhenti, tapi rupanya kami sama-sama egois karena akupun tidak bisa kehilangan gadis ini dari sisiku.

Tapi, aku seorang laki-laki. Akan lebih baik jika aku bisa membuat keputusan yang benar dan tidak terbawa suasana seperti ini. Aku memutus pertautan kami, meraih kedua pipinya, dahi kami masih saling menempel satu sama lain, dan aku mencium bibirnya sekilas sekali lagi.

“Joo, kumohon berhentilah. Semakin lama, aku semakin nggak akan bisa melepasmu. Jadi, berhentilah sekarang.”

“Aku nggak mau dengar.” mata Joo terpejam, kedua tangannya mencengkeram pergelanganku dengan kuat, lalu tiba-tiba punggung tanganku dialiri buliran hangat yang sudah pasti berasal dari mata gadis ini. Joo menangis, dan ini semua karenaku.

“Joo ….”

“Jangan bicara lagi, Kak!” dia mengempaskan tanganku turun dari pipinya, lantas dia mundur beberapa langkah untuk membuat jarak di antara kami. “It’s stupid, I know. I will never be her; be your partner. But, I won’t stop! I can’t stop! And I’ll never stop!

Okay, then, what will you do?” aku kembali menariknya mendekat. “I’m getting married, and you … you’ll get hurt, Joo.”

Not, at all! I’m already taking a risk, and it’s fine all along.” dia mendorongku untuk menjauh darinya, mundur beberapa langkah lagi, sebelum akhirnya berjalan pergi seraya berucap, “Do whatever you want, but never ask me to stop again. I’m warning you!”.

“Joo, I loved you! That’s why I told you to stop.” seruku, membuatnya sontak berhenti. Aku mendekatinya, lalu memeluknya dari belakang. “Aku nggak pernah ingin kau terluka. Aku ingin kau bersama orang yang tepat, yang dapat menjagamu dan menghargai dirimu. Aku cuma … ingin agar kau dapat bahagia tanpa terus menunggu yang nggak pasti seperti ini.”

“Tapi, aku suka melakukannya, Kak.”

“Aku tahu,” aku membalik tubuhnya agar menghadapku, matanya yang sembab sungguh-sungguh menyakitiku. “Kau bisa melakukan itu pada orang yang mencintaimu, Joo.”

“Kau mencintaiku, ‘kan?”

Yep, tapi nggak bisa bersamamu. Yang kumaksud, orang yang mencintaimu dan orang yang bisa bersama denganmu.”

Joo menunduk, dia masih terdiam dan tampaknya sedang berpikir apa yang harus dia lakukan. Aku merasa buruk sekali melihatnya dalam kondisi seperti ini. Aku tidak pernah berpikir jika dia akan begitu menyayangiku, meskipun aku sudah sangat menyakitinya dan membuatnya kehilangan nama baik karena dianggap pengganggu hubungan orang. Tapi, aku tahu dia tidak berniat begitu. Jujur saja, aku lebih dulu mengenal Joo daripada pacarku yang sekarang. Kami bekerja di satu agensi yang sama, hanya saja Joo berada di kelas artis, sementara aku di model. Dan karena kupikir saat itu kita hanya berteman biasa, aku tidak terlalu memedulikan perasaannya.

Bukannya aku menyesal karena tidak menyadarinya dulu, aku hanya merasa kehilangan seseorang yang mampu memahamiku dengan baik. Gadis yang sanggup membuatku merasa aku sedang menikmati hidup. Dia bisa membawaku menjadi diriku sendiri, bukan Chae Hyungwon seorang model terkenal, hanya Chae Hyungwon saja.

“Baiklah,” katanya setelah cukup lama terdiam. “Aku akan menjauh darimu, Kak. Nggak akan lagi menemuimu. Nggak akan memberimu apapun. Nggak akan menghubungimu. Tapi, aku juga nggak akan berhenti mencintaimu. Ini keputusan finalku, jangan memintaku melakukan yang lebih dari ini karena aku nggak akan bisa.”

Pada akhirnya, aku melepaskan tanganku dari bahunya. Melepasnya untuk pergi dan tidak akan lagi berada di sekitarku. Aku memaksakan senyumku terlengkung tipis. Aku ingin percaya padanya dan menghormati keputusannya. Cinta ada karena terbiasa, selama ini Joo memang terbiasa bersamaku. Jika dia menjauh dariku, mungkin perasaan itu akan menghilang pelan-pelan.

Joo masih berdiri di depanku, lalu tahu-tahu dia mencium pipiku sekilas. “Itu yang pertama dan untuk terakhir kalinya.” katanya, seolah meminta maaf karena telah menciumku secara tiba-tiba. “Selamat untuk pertunanganmu. Semoga skripsimu cepat selesai dan kau bisa meminangnya segera. Sampai jumpa, Kak Chae.”

Dan saat dia melangkah pergi, separuh diriku seakan-akan ikut pergi bersamanya. Aku merasa kehilangan, lebih ke merasa sendirian saat ini. Kupikir kita bisa berteman seperti dulu, tapi rasanya itu akan lebih menyakitinya karena dia sudah bilang bahwa dia tidak akan pernah berhenti pada perasaannya. Andai saja aku bisa bersama dengan Joo. Andai saja aku peka pada perasaannya. Andai saja aku tidak perlu mengambil jalan ini.

Ah, andai saja.

.

.

.

fin.

risequinn’s note:

Happy (late) birthday Chae Turtle!

Sebenarnya mau posting ini kemarin, tapi masih separuh dan tiba-tiba mager banget mau lanjutin /sigh/ ya sudah yang penting jadi keposting ehe~

Tbh, plot awal nggak seperti ini, tapi dari dulu aku emang suka banget ngejahatin Joo (bikin dia mati, bikin dia patah hati, sekarang bikin cintanya bertepuk sebelah tangan), pokoknya Joo ini pelampiasanku kalo lagi kepingin nulis angsty. Im so sorry Jookyung-ie /.\

Oke gitu aja, a little reviews make me feel better, guys! See ya ^^

Advertisements

Pip~ Pip~ Pip~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s